Thursday, May 30, 2013

Berau Terapkan Pengelolaan Hutan Rendah Emisi



*     Program Karbon Hutan Berau Mendukung Program Pemerintah Indonesia untuk Menurunkan Emisi melalui Penerapan RIL-C pada Konsesi Hutan Alam



Tanjung Redeb, 27 Mei 2013. The Nature Conservancy (TNC) akan menggelar lokakarya sehari mengenai pemanenan kayu ramah lingkungan rendah emisi karbon atau lokakarya RIL-C (reduced impact logging-carbon) pada tanggal 28 Mei 2013 di Tanjung Redeb. Acara yang rencana dibuka oleh Kepala Dinas Kehutanan Kabupaten Berau mensasar para peserta dari 12 pemegang konsesi hak pengusahaan hutan (HPH) di Kalimantan Timur yaitu PT. Rizki Kacida Reana, PT. Inhutani I Unit Labanan (PT Hutansanggam Labanan Lestari), PT. Inhutani I Unit Meraang, PT. Sumalindo Lestari Jaya IV, PT. Karya Lestari, PT. Utama Damai Indah Timber, PT. Aditya Kirana Mandiri, PT. Wana Bakti Persada Utama, PT. Narkata Rimba, PT. Belayan River Timber, PT. Kemakmuran Berkah Timber dan PT. Gunung Gajah Abadi. Adapun tujuan lokakarya yaitu untuk mendapatkan masukan dan penjelasan dari pelaksana lapangan mengenai kelayakan setiap kegiatan RIL-C di lapangan apakah mudah atau sulit untuk diterapkan; serta menemukenali hal-hal yang diperlukan untuk mendukung kegiatan RIL-C tersebut pada tataran implementasinya untuk mendukung pengelolaan hutan lestari (PHL) dan bertanggung-jawab. Lokakarya hadirkan 3 orang nara sumber yaitu Bronson Griscom, Phd. pakar karbon dari kantor pusat TNC Amerika Serikat; Prof. Francis E. Putz pakar RIL dari Universitas Florida Amerika Serikat, dan Hamzah; S.Hut. Kepala Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) Model Berau Barat.

Bekerjasama dengan semua pihak  dan sektor yang bergerak di bidang pengusahaan hutan dan lahan merupakan salah satu strategi kunci untuk mensukseskan Program Karbon Hutan Berau (PKHB). PKHB ini sendiri merupakan program kemitraan dari kabupaten, provinsi, dan pemerintah nasional, lembaga non pemerintah, dan pemangku kepentingan lainnya untuk melaksanakan secara terpadu strategi pembangunan rendah karbon yang dapat menciptakan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan meningkatkan mata pencaharian untuk masyarakat Berau, sekaligus memberikan perlindungan hutan. Salah satu mitra PKHB tersebut yaitu pemegang izin konsesi hak pengusahaan hutan (HPH). TNC sebagai salah satu mitra penting dalam PKHB mendukung Pemerintah Kabupaten Berau dengan cara melakukan fasilitasi dan pendampingan kepada konsesi HPH dalam menerapkan pengelolaan hutan lestari sehingga harapannya HPH yang didampingi akan mendapatkan sertifikat pengelolaan hutan lestari. Adapun proses sertifikasi kehutanan itu sendiri dilakukan baik yang bersifat wajib atau sukarela. Bentuk-bentuk dukungan dan fasilitasi TNC terhadap HPH diantaranya yaitu melakukan pelatihan pengelolaan dan perencanaan kehutanan dan mendorong penggunaan monocable winch (MCW) atau yang umum dikenal dengan sebutan mesin pancang yang ramah lingkungan dalam proses kegiatan penyaradan. Dari pengalaman, penggunaan mesin pancang sendiri akan menekan emisi karbon hutan dari kegiatan pemanenan hutan. Metode yang dikembangkan oleh TNC ini dikenal dengan istilah RIL-C practices”.

Bambang Wahyudi (Improve Forest Management/IFM Manager TNC) mengatakan yang dimaksud dengan RIL-C practices adalah sekumpulan kegiatan dalam mengurangi dampak penebangan khususnya terhadap emisi karbon tanpa mengurangi produktivitas pemanenan. Kegiatan RIL-C meliputi namun tidak terbatas pada: 1) mengurangi penebangan pohon cacat, 2) penebangan terarah dan pemotongan liana 6 bulan sebelum penebangan, 3) penggunaan mesin pancang untuk penyaradan, 4) perencanaan yang matang untuk pola jalan sarad, 5) lebar jalan angkutan (hauling) yang lebih kecil, < 24 meter, dan 6 meter) tempat penampungan kayu (TPn) yang lebih kecil. Observasi yang dilakukan TNC diketahui bahwa dengan melakukan kegiatan-kegiatan RIL-C sebagaimana disebutkan di atas akan bisa mereduksi emisi karbon. Kegiatan penyaradan dengan kegiatan RIL-C misalnya dengan menerapkan penggunaan mesin pancang atau monocable winch (MCW) dalam pemanenan akan menghindari emisi 8 ton carbon/ha dari areal 70% luas blok rencana kerja tahunan (RKT), menghindari penebangan pohon cacat atau dengan menekan limbah < 5% akan mengurangi emisi 7,5 ton carbon/ha, dan jika rata-rata jalan angkutan dan tumbang bayang ≤ 24 meter akan menghindari emisi 2,4 ton carbon/ha.

Dalam prakteknya, ternyata kegiatan RIL-C dapat mereduksi emisi dari kegiatan pemanenan secara signifikan. Hal ini sangat sejalan dengan program pemerintah dalam pengelolaan hutan lestari dan bertanggung jawab, serta dapat mendukung target pemerintah dalam menurunkan emisi Gas Rumah Kaca (GRK). Dalam Peraturan Presiden (Pempres) nomor 61/2011, jelas disebutkan bahwa Indonesia akan menurunkan emisi GRK sebesar 26% (0,76 Gt CO2) pada tahun 2020, dan 88% (0,68 Gt CO2) dari target tersebut dibebankan kepada sektor kehutanan. Dengan demikian, sudah selayaknya seluruh stakeholder yang diterapkan mendukung kegiatan RIL-C yang telah diterapkan di Kabupaten Berau dan Kalimantan Timur pada umumnya. Bagi para pemegang izin hak pengelolaan hutan (HPH) dengan menerapkan RIL-C akan memberi manfaat kinerja yang akan berkelanjutan dan bertanggung jawab, mendapatkan apresiasi positif dari pasar dan pemerintah. Pemerintah khususnya Kementerian Kehutanan juga akan mendapat kredibilitas karena mendukung target Pemerintah Indonesia.

“TNC sangat berperan dalam membantu pencapaian sertifikasi di PT Kemakmuran Berkah Timber (PT KBT). Selain sebagai lead consultant, TNC telah banyak membantu dalam fasilitasi berbagai kegiatan yang sangat penting untuk memenuhi standard FSC (Forest Stewardship Council), antara lain dalam proses Participatory Rural Apraisal (PRA), membangun Collaborative Forest Management (CFM), Mapping Participative, Perencanaan dan Implementasi RIL, identifikasi dan penilaian High Conservation Value Forest (HCVF) dan lain-lain. Kegiatan-kegiatan tersebut merupakan kegiatan kunci dalam pencapaian sertifikasi FSC. Pasca perolehan sertifikat, kehadiran dan peran TNC tetap diperlukan untuk memberikan masukan guna menjamin dan memastikan agar unit manajemen tersertifikasi tetap konsisten dalam menjalankan aktifitas pengelolaan hutan sesuai standar sertifikasi. TNC juga diharapkan dapat memberikan inovasi-inovasi baru yang dapat memperbaiki teknik pengelolaan hutan di lapangan guna meningkatkan kinerja dan daya saing perusahaan”. Demikian testimoni dan harapan Sukadi, Ketua Tim Sertifikasi PT Kemakmuran Berkah Timber yang telah didampingi TNC dan berhasil mendapatkan sertifikat pengelolaan hutan lestari di perusahaannya.

Pengembangan kegiatan RIL-C masih terus berjalan. Saat ini, TNC telah membuat methodologi pelaksanaan kegiatan RIL-C dan akan diusulkan menjadi dokumen methodologi yang terdaftar dan diakui oleh standar international (VCS). Sosialisasi dan fasilitasi kegiatan ini juga terus berjalan bekerjasama dengan stakeholder di semua level. Dalam waktu dekat kegiatan RIL-C akan diujicobakan setidaknya di 2 konsesi HPH di Kalimantan Timur, dengan demikian akan bisa dibuktikan manfaat dari kegiatan ini dan layak diterapkan di seluruh konsesi HPH di Indonesia.

Selain itu, hasil dari lokakarya yang digelar ini diharapkan juga akan menjadi bahan masukan untuk penyusunan kebijakan sektor kehutanan. Pengambilan keputusan dan penyusunan peraturan harus didasarkan pada basis ilmiah yang kuat dan benar-benar dapat diimplementasikan di lapangan. Tanpa basis ilmiah dan input pelaksanaan di lapangan dikhawatirkan peraturan yang dibuat bisa jadi hanya diatas kertas saja dan  tidak dapat dilaksanakan dengan baik di lapangan. Lebih jauh peraturan yang dibuat tersebut tidak efektif untuk menurunkan emisi dan meningkatkan efisiensi pemanenan kayu.


-000-

Catatan untuk editor:
The Nature Conservancy (TNC) adalah organisasi nirlaba terkemuka di dunia yang melindungi daratan-daratan dan lautan yang penting bagi kehidupan manusia dan alam.  Di Indonesia TNC mulai dengan program untuk mendukung pengelolaan Taman Nasional Lore Lindu tahun 1991, TNC Indonesia kini menjalankan 2 program konservasi daratan dan lautan di Kalimantan Timur, Papua Barat dan Nusa Tenggara Timur.  www.nature.org.

Program Karbon Hutan Berau (PKHB) adalah program kemitraan dari kabupaten, provinsi, dan pemerintah nasional, lembaga non pemerintah, The Nature Conservancy (TNC), dan pemangku kepentingan lainnya untuk melaksanakan secara terpadu strategi pembangunan rendah karbon yang dapat menciptakan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan meningkatkan mata pencaharian untuk masyarakat Berau, sekaligus memberikan perlindungan hutan. 



Untuk informasi lebih lanjut, silahkan hubungi tim The Nature Conservancy (TNC):

Bambang Wahyudi
Improve Forest Management/IFM Manager TNC
Jl.  Cempaka II No.7 RT 7 RW 7 Tanjung Redeb Berau
Tel. +62 - 554 23388; Fax. +62 - 554 21814
Mobile: 0812-540-1623 atau 0812-8695-5972  

Saipul Rahman
Direktur Program Berau
Jl.  Cempaka II No.7 RT 7 RW 7 Tanjung Redeb Berau
Tel. +62 - 554 23388; Fax. +62 - 554 21814
Mobile:0811-163-7846   

Agustina Tandi Bunna (Ebe)
Outreach Specialist
Jl.  Cempaka II No.7 RT 7 RW 7 Tanjung Redeb Berau
Tel. +62 - 554 23388; Fax. +62 - 554 21814
Mobile:0811-580-3624   

 

No comments:

Post a Comment